Perjalanan Akhir Pemuda Bertato
AkuIslam.ID - "Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung pada niatnya dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Maka sesiapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya." (HR Bukhari dan Muslim).
Di hari yang terik, seorang pemuda datang tergopoh-gopoh mendekati mushala. Dengan satu keyakinan yang kuat, ia melangkahkan kakinya menuju mushala itu. Sang pemuda hanya mengenakan kaos oblong. Tato menghiasai sekujur lengan dan tubuhnya. Ia mengenakan celana jeans yang sudah robek di lututnya.
Setibanya di pintu mushala, ia tetapi dinding-dinding ata luar bangunan mushala. Seperti orang yang sedang mencari sesuatu. Kosong, tanpa pandangan yang jelas. Ia lihat beberapa orang sedang shalat Zuhur berjamaah. "Astagfirullah, sudah lama aku meninggalkan itu (shalat)," gumamnya pelan.
Perlahan-lahan ia memasuki mushala kecil itu. Dan, "Brukkk...!" tiba-tiba saja dia terjatuh dan tersungkur ke lantai mushala. Tidak ada orang yang menghiraukannya, sebab orang-orang tengah shalat berjamaah. Untuk beberapa menit lamanya, pemuda itu tidak dihiraukan. Tidak ada yang memperhatikan.
Setelah shalat berjamaah usai, salah satu diantara jamaah menghampiri tubuh yang tersungkur. Bangun! Ayo bangun!" teriaknya, sambil menepak-nepakkan tangannya ke wajah pemuda itu.
"Mabuk, kali," sahut jamaah yang lain.
"Iya, dia biasanya mabuk," sambung yang lainnya.
"Wah, kalau begitu, angkat dan keluarkan dia dari mushala ini. Orang mabuk jangan masuk ke mushala."
Kemudian dua orang mencoba membangunkan pemuda itu, bahkan ada yang mencoba menarik kakinya keluar. Tapi, karena tubuh pemuda itu besar, dua orang tidak sanggup menariknya.
"Ya sudah, biarkan saja, kalau susah ditarik. Kita tunggu sadarnya saja," kata satu diantara mereka.
Cukup lama pemuda itu dibiarkan tidak sadarkan diri. Beberapa jamaah pun pulang. Namun, diantara mereka ada yang tetap menunggu sambil mengobrol di mushala. Setelah 30 menit tidak sadarkan diri, salah seorang jamaah kemudian berinisiatif untuk kembali membangunkannya. Namun, tiba-tiba, ia sangat kaget. Pemuda itu, ternyata masih warganya dan nampak seperti orang yang sudah meninggal dunia.
"Kok aneh, tidak ada napasnya. Denyut nadinya juga berhenti." Kontan saja mereka merubungi lelaki itu dan memastikan apakah pemuda itu sudah tidak bernyawa atau masih hidup. Tanpa pikir panjang, tubuh pemuda itu diangkat secara bersama-sama keluar. Warga hendak membawanya ke rumah sakit untuk memastikan apa yang telah terjadi dan yang menimpa pemuda itu.
Setelah diperiksa pegawai medis, diketahui bahwa pemuda itu sudah tidak bernyawa lagi. Dia sudah menghembuskan napas yang terakhir, bersamaan dengan ia terjatuh dan tersungkur di lantai mushala itu. Dokter menyebut bahwa laki-laki itu terkena serangan jantung mendadak. Penyakit yang diderita pemuda itu mungkin sudah lama, tapi jarang atau bahkan tidak pernah diperiksakan ke dokter. Pihak keluarga juga mengiyakan bahwa pemuda itu memang belakangan mengaku sering mengalami rasa sakit di sekitar dadanya.
MABUK DAN JUDI
Pemuda itu adalah warga di Kampung Waras (bukan nama kampung yang sebenarnya). Letaknya tak jauh dari Ibukota. Pemuda itu sendiri bernam Rohayan (bukan nama sebenarnya). Panggil saja 'Yan'. Usianya sekitar 30 tahun. Meski sudah kepala tiga, pemuda itu belum menikah. Dan ia anak ketiga dari pasangan pak Hamdan dan Bu Rohimah. Kedua orangtuanya bekerja sebagai pedagang toko sembako di pasar.
Sehari-hari, Rohayan beraktivitas sebagai tukang bengkel. Bengkelnya tak jauh dari pasar. Ia punya satu anak buah. Biasanya ia bergantian menjaga bengkelnya dengan anak buahnya itu.
Yan dikenal warga sebagai pemuda yang urakan. Suka minum-minuman beralkohol, berjudi, bertato dan sering balapan motor liar. Orangtuanya sudah membebaskannya. Mereka sudah tidak sanggup lagi meningatkan dan menasihatinya. Yan pun bebas melakukan apa saja. karena hal itu adalah kehidupannya.
Yan pernah masuk sel selama sebulan, lantaran terlibat balapan liar. Dia juga pernah terlibat tawuran dengan pemuda lain kampung, hanya karena rebutan wanita. Ia sampai masuk ke rumah sakit karena mengalami luka-luka yang sangat serius.
Meski tergolong pemuda urakan, solidaritas Rohayan tinggi dan sangat menghargai kawan-kawannya. Pernah suatu hari, kawannya bertaubat dan tidak mau minum-minuman keras. Keputusan kawannya itu ia dukung, meskipun ia tidak mau meninggalkan kebiasaannya itu. Sebagai bentuk dukungan kepada keputusan kawannya itu, ia marah bila ada kawan lain yang tetap mengajaknya untuk minum-minuman. Menurutnya, orang yang sudah bertaubat hendaknya tetap didukung.
Pada suatu hari, temannya itu kita sebut saja namanya Ahmad berkunjung ke rumahnya. Tujuannya tak lain adalah untuk mengajaknya bertaubat dan meninggalkan kebiasaan minum-minuman dan berjudi. Apa kata Rohaya kala itu: "Kalau kamu sudah menemukan jalan hidup yang benar, jalani saja. Saya belum bisa mengikuti jejakmu. Aku hanya akan bertaubat bila aku menemukan sesuatu yang luar biasa dalam hidupku."
"Apa yang luar biasa itu, yan?"
"Aku anggap sesuatu itu luar biasa bila aku merasa nyaman dan tenang melangkahkan kakiku menuju tempat ibadah. Bila aku sudah menemukan itu, aku rela mati," tutur Yan kepada rekannya itu. Perkataan itulah yang kemudian Ahmad ingat tatkala ia mendengar berita Rohayan sudah meninggal dunia. Ia mencoba mengait-ngaitkan apa yang ia alami dengan kabar meninggalnya Yan di dalam mushala dalam keadaan tidak untuk shalat.
BERAWAL DARI NIAT
Meninggalnya Yan di dalam mushala membuat spekulasi dan multitarsif banyak orang. Ada yang menganggap bahwa Yan meninggal karena kebetulan saja. Bisa jadi karena dia ingin buang air kecil di mushala, karena tidak mungkin dia mau shalat sedangkan dia mengenakan kaos oblong dan celana jeans robek-robek. Ada pula yang menilai bahwa Yan meninggal tidak secara kebetulan, tapi memang ia diistimewakan oleh Allah. Ia hendak bertaubat sehingga masuk ke dalam mushala.
Pada dua penilaian dan asumsi ini, Ahmad sendiri punya pandangan lain. Ia menilai bahwa Yan memang diistimewakan oleh Allah. Keistimewaan itu tentu saja tidak datang secara tiba-tiba. Kedatangannya ke mushala dan hendak bertaubat adalah perjalanan panjang batinnya.
Pertama, menurut Ahmad, meskipun Yan masih tetap suka mabuk dan judi, tapi dia sangat mendukung upaya taubat yang dia jalani. Yan berharap bahwa dirinya dapat bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Kedua, Yan pernah bercerita bahwa dia akan bertaubat bila menemukan ketenangan dan kesejukan hati saat menuju tempat ibadah. Nah, bisa jadi Yan merasakan kondisi itu pada saat dia masuk ke mushala.
Ketiga, apa yang dialami Yan ini hampir mirip dengan kisah dalam kitab Nashaih al-Ibad, seorang pemuda yang berjalan menuju pintu taubat, namun ia meninggal dunia saat berada di dalam perjalanan. Pada saat itu, malaikat bingung untuk menentukan apakah laki-laki itu layak dimasukkan ke dalam surga atau neraka.
Karena, sepanjang hayatnya, pemuda itu selalu bermaksiat kepada Allah. Namun demikian, di akhir hayatnya, pemuda itu meninggal dalam perjalanan menuju taubat kepada Allah. Artinya, niat taubatnya itu dihitung sebagai kebaikan yang luar biasa. Allah kemudian menyuruh malaikat untuk memasukkan laki-laki itu ke dalam surga, karena laki-laki itu sudah berniat dengan tulus untuk bertaubat dan jarak perjalanan menuju pintu taubat lebih dekat dari jarak dia biasa bermaksiat.
Dari tiga hal yang dikemukakan Ahmad tersebut semoga saja salah satunya adalah benar-benar dilakukan Rohayan. Jika memang ia sudah punya niatan untuk bertaubat dari dulu, maka secara hati dia sudah punya itikad baik. Oleh karenanya, Allah kemudian membukakan pintu taubatnya dengan cara menggerakkan hati Rohayan untuk mendatangi Mushala, tempat ibadah; simbol bangunan ketaatan kepada Allah swt. Wallahu a'lam bilshawab.
![]() |
| Ilustrasi |
Di hari yang terik, seorang pemuda datang tergopoh-gopoh mendekati mushala. Dengan satu keyakinan yang kuat, ia melangkahkan kakinya menuju mushala itu. Sang pemuda hanya mengenakan kaos oblong. Tato menghiasai sekujur lengan dan tubuhnya. Ia mengenakan celana jeans yang sudah robek di lututnya.
Setibanya di pintu mushala, ia tetapi dinding-dinding ata luar bangunan mushala. Seperti orang yang sedang mencari sesuatu. Kosong, tanpa pandangan yang jelas. Ia lihat beberapa orang sedang shalat Zuhur berjamaah. "Astagfirullah, sudah lama aku meninggalkan itu (shalat)," gumamnya pelan.
Perlahan-lahan ia memasuki mushala kecil itu. Dan, "Brukkk...!" tiba-tiba saja dia terjatuh dan tersungkur ke lantai mushala. Tidak ada orang yang menghiraukannya, sebab orang-orang tengah shalat berjamaah. Untuk beberapa menit lamanya, pemuda itu tidak dihiraukan. Tidak ada yang memperhatikan.
Setelah shalat berjamaah usai, salah satu diantara jamaah menghampiri tubuh yang tersungkur. Bangun! Ayo bangun!" teriaknya, sambil menepak-nepakkan tangannya ke wajah pemuda itu.
"Mabuk, kali," sahut jamaah yang lain.
"Iya, dia biasanya mabuk," sambung yang lainnya.
"Wah, kalau begitu, angkat dan keluarkan dia dari mushala ini. Orang mabuk jangan masuk ke mushala."
Kemudian dua orang mencoba membangunkan pemuda itu, bahkan ada yang mencoba menarik kakinya keluar. Tapi, karena tubuh pemuda itu besar, dua orang tidak sanggup menariknya.
"Ya sudah, biarkan saja, kalau susah ditarik. Kita tunggu sadarnya saja," kata satu diantara mereka.
Cukup lama pemuda itu dibiarkan tidak sadarkan diri. Beberapa jamaah pun pulang. Namun, diantara mereka ada yang tetap menunggu sambil mengobrol di mushala. Setelah 30 menit tidak sadarkan diri, salah seorang jamaah kemudian berinisiatif untuk kembali membangunkannya. Namun, tiba-tiba, ia sangat kaget. Pemuda itu, ternyata masih warganya dan nampak seperti orang yang sudah meninggal dunia.
"Kok aneh, tidak ada napasnya. Denyut nadinya juga berhenti." Kontan saja mereka merubungi lelaki itu dan memastikan apakah pemuda itu sudah tidak bernyawa atau masih hidup. Tanpa pikir panjang, tubuh pemuda itu diangkat secara bersama-sama keluar. Warga hendak membawanya ke rumah sakit untuk memastikan apa yang telah terjadi dan yang menimpa pemuda itu.
Setelah diperiksa pegawai medis, diketahui bahwa pemuda itu sudah tidak bernyawa lagi. Dia sudah menghembuskan napas yang terakhir, bersamaan dengan ia terjatuh dan tersungkur di lantai mushala itu. Dokter menyebut bahwa laki-laki itu terkena serangan jantung mendadak. Penyakit yang diderita pemuda itu mungkin sudah lama, tapi jarang atau bahkan tidak pernah diperiksakan ke dokter. Pihak keluarga juga mengiyakan bahwa pemuda itu memang belakangan mengaku sering mengalami rasa sakit di sekitar dadanya.
MABUK DAN JUDI
Pemuda itu adalah warga di Kampung Waras (bukan nama kampung yang sebenarnya). Letaknya tak jauh dari Ibukota. Pemuda itu sendiri bernam Rohayan (bukan nama sebenarnya). Panggil saja 'Yan'. Usianya sekitar 30 tahun. Meski sudah kepala tiga, pemuda itu belum menikah. Dan ia anak ketiga dari pasangan pak Hamdan dan Bu Rohimah. Kedua orangtuanya bekerja sebagai pedagang toko sembako di pasar.
Sehari-hari, Rohayan beraktivitas sebagai tukang bengkel. Bengkelnya tak jauh dari pasar. Ia punya satu anak buah. Biasanya ia bergantian menjaga bengkelnya dengan anak buahnya itu.
Yan dikenal warga sebagai pemuda yang urakan. Suka minum-minuman beralkohol, berjudi, bertato dan sering balapan motor liar. Orangtuanya sudah membebaskannya. Mereka sudah tidak sanggup lagi meningatkan dan menasihatinya. Yan pun bebas melakukan apa saja. karena hal itu adalah kehidupannya.
Yan pernah masuk sel selama sebulan, lantaran terlibat balapan liar. Dia juga pernah terlibat tawuran dengan pemuda lain kampung, hanya karena rebutan wanita. Ia sampai masuk ke rumah sakit karena mengalami luka-luka yang sangat serius.
Meski tergolong pemuda urakan, solidaritas Rohayan tinggi dan sangat menghargai kawan-kawannya. Pernah suatu hari, kawannya bertaubat dan tidak mau minum-minuman keras. Keputusan kawannya itu ia dukung, meskipun ia tidak mau meninggalkan kebiasaannya itu. Sebagai bentuk dukungan kepada keputusan kawannya itu, ia marah bila ada kawan lain yang tetap mengajaknya untuk minum-minuman. Menurutnya, orang yang sudah bertaubat hendaknya tetap didukung.
Pada suatu hari, temannya itu kita sebut saja namanya Ahmad berkunjung ke rumahnya. Tujuannya tak lain adalah untuk mengajaknya bertaubat dan meninggalkan kebiasaan minum-minuman dan berjudi. Apa kata Rohaya kala itu: "Kalau kamu sudah menemukan jalan hidup yang benar, jalani saja. Saya belum bisa mengikuti jejakmu. Aku hanya akan bertaubat bila aku menemukan sesuatu yang luar biasa dalam hidupku."
"Apa yang luar biasa itu, yan?"
"Aku anggap sesuatu itu luar biasa bila aku merasa nyaman dan tenang melangkahkan kakiku menuju tempat ibadah. Bila aku sudah menemukan itu, aku rela mati," tutur Yan kepada rekannya itu. Perkataan itulah yang kemudian Ahmad ingat tatkala ia mendengar berita Rohayan sudah meninggal dunia. Ia mencoba mengait-ngaitkan apa yang ia alami dengan kabar meninggalnya Yan di dalam mushala dalam keadaan tidak untuk shalat.
BERAWAL DARI NIAT
Meninggalnya Yan di dalam mushala membuat spekulasi dan multitarsif banyak orang. Ada yang menganggap bahwa Yan meninggal karena kebetulan saja. Bisa jadi karena dia ingin buang air kecil di mushala, karena tidak mungkin dia mau shalat sedangkan dia mengenakan kaos oblong dan celana jeans robek-robek. Ada pula yang menilai bahwa Yan meninggal tidak secara kebetulan, tapi memang ia diistimewakan oleh Allah. Ia hendak bertaubat sehingga masuk ke dalam mushala.
Pada dua penilaian dan asumsi ini, Ahmad sendiri punya pandangan lain. Ia menilai bahwa Yan memang diistimewakan oleh Allah. Keistimewaan itu tentu saja tidak datang secara tiba-tiba. Kedatangannya ke mushala dan hendak bertaubat adalah perjalanan panjang batinnya.
Pertama, menurut Ahmad, meskipun Yan masih tetap suka mabuk dan judi, tapi dia sangat mendukung upaya taubat yang dia jalani. Yan berharap bahwa dirinya dapat bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Kedua, Yan pernah bercerita bahwa dia akan bertaubat bila menemukan ketenangan dan kesejukan hati saat menuju tempat ibadah. Nah, bisa jadi Yan merasakan kondisi itu pada saat dia masuk ke mushala.
Ketiga, apa yang dialami Yan ini hampir mirip dengan kisah dalam kitab Nashaih al-Ibad, seorang pemuda yang berjalan menuju pintu taubat, namun ia meninggal dunia saat berada di dalam perjalanan. Pada saat itu, malaikat bingung untuk menentukan apakah laki-laki itu layak dimasukkan ke dalam surga atau neraka.
Karena, sepanjang hayatnya, pemuda itu selalu bermaksiat kepada Allah. Namun demikian, di akhir hayatnya, pemuda itu meninggal dalam perjalanan menuju taubat kepada Allah. Artinya, niat taubatnya itu dihitung sebagai kebaikan yang luar biasa. Allah kemudian menyuruh malaikat untuk memasukkan laki-laki itu ke dalam surga, karena laki-laki itu sudah berniat dengan tulus untuk bertaubat dan jarak perjalanan menuju pintu taubat lebih dekat dari jarak dia biasa bermaksiat.
Dari tiga hal yang dikemukakan Ahmad tersebut semoga saja salah satunya adalah benar-benar dilakukan Rohayan. Jika memang ia sudah punya niatan untuk bertaubat dari dulu, maka secara hati dia sudah punya itikad baik. Oleh karenanya, Allah kemudian membukakan pintu taubatnya dengan cara menggerakkan hati Rohayan untuk mendatangi Mushala, tempat ibadah; simbol bangunan ketaatan kepada Allah swt. Wallahu a'lam bilshawab.

No comments for "Perjalanan Akhir Pemuda Bertato"
Post a Comment